Belajar Menghargai Waktu

Posted on

Tepatnya kemaren ketika sholat  jum’ad di Masjid Al-Fatihah Universitas Mulawrman, dalam khutbahnya khotib mengingatkan pentinggnya untuk menghargai waktu agar kita dapat melatih diri untuk disiplin dan memiliki kualitas diri yang baik.

Dalam khutbahnya, saya terus menyimak setiap detail apa yang dibicarakan khotib. Penekanannya adalah bagaimana kita dapat meningkatkan kulitas diri dan kualitas umat muslim pada umumnya agar dapat berkopentensi dalam di dunia secara ketat dengan umat-umat lainnya.

Khotib mengingatkan kenapa umat muslim bisa sangat tertinggal dan terbelakang dibandingkan umat-umat lain, khotib mengambil contoh berdasarkan latar belakang krisis kemanusiaan yang baru saja terjadi di palestina antara umat muslim dan umat yahudi.

Tidak bisa dipungkiri umat Yahudi memang tergolong umat yang cerdas dan berkualitas walau secara jumlah dikatakan khotib mereka cukup minoritas. Bebeda dengan umat muslim yang sangat mayoritas saat ini. Hasil survei pun diungkapkan khotib yang juga merupakan salah seorang civitas akademika Universitas Mulawarman itu, bahwa Yahudi (Israel) merupakan pencetak doktor tersebar/terbanyak di dunia.

Khotib mengingatkan bahwa “sesuatu yang minoritas dapat mengalahkan sesuatu yang mayoritas dengan kualitas mereka”.

Isue utama yang dapat saya kutip dari khutbah khotib saat itu adalah kurangnya kita dalam menghargai waktu yang diberikan oleh Allah SWT.

Allah SWT menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan, tiada lain agar kita mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah SWT menciptakan yang sedemikian itu bukan tanpa tujuan.

Terdapat banyak hikmah di balik tanda-tanda kekuasan-Nya itu. Di antaranya agar kita menghargai waktu. Caranya adalah dengan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.

Ini merupakan catatan penting bagi diri ini sendiri, karena selama ini saya berfikir sudah saatnya saya ingin mengubah jalan hidup untuk menjadi lebih baik  dan dapat berkompetisi secara fair dalam kancah dunia kerja secara global.

Saya berfikir “Mengapa kehidupan saya tidak berubah dan mengalami kemajuan ? kok orang-orang yang bersama-sama saya dari awal bisa lebih baik dari saya saat ini ?” ini sebenarnya linier dengan firman Allah SWT yaitu  “Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka berusaha mengubahnya sendiri.” (ar-Ra’d : 11).

Mengapa tidak berubah ? Mengapa kehidupan saya Stak atau berjalan ditempat ?

Ya, mungkin karena saya tidak pernah berusaha untuk berbuat lebih  baik dari hari-hari sebelum saya lalui. Tidakkah pernah saya berfikir apa yang saya lakukan sekarang adalah hal yang sama seperti yang saya lakukan di hari-hari kemaren.

Bukankah Rasullulah SAW dalam sebadanya mengatakan : “Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren maka ia termasuk orang yang celaka, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemaren maka ia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang lebih baik hari ini dari hari kemaren maka ia termasuk orang yang beruntung”.

Dalam pemikiran-pemikiran tersebut saya mencoba untuk dapat mengubah dan berbuat secara lebih baik dalam meningkatkan kulitas diri dari waktu ke waktu jika saya tidak ingin tertinggal atau kalah dalam kompetisi dunia yang begitu ketat.

3 Hal yang dapat saya lakukan saat ini adalah :

  1. Memulainya dari diri sendiri,
  2. Memulainya dari yang kecil,
  3. Memulainya dari sekarang.

Setidaknya ada progress perubahan dalam hidup dan diri ini yang dapat berjalan walau saat ini cukup pelan dan perlahan namun saya yakin dengan komitment dan usaha semuanya dapat berubah seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT. Amin…

Semoga ini tidak hanya akan jadi catatan yang setelah itu terlupakan… semoga ini akan selalu menjadi peringatan dan ingatan dalam hidup saya. Amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published.