Belajar Hidup Dari Mengemudi

Posted on

Baru saja saya membuka laptop untuk memulai kegiatan blogwalking saya hari ini. kebetulan saya mendapati artikel motivasi menarik tentang perumpamaan belajar hidup dari mengemudi. Berikut ini artikel motivasi tersebut yang saya kutip di blog saya ini.

Beberapa minggu yang lalu, saya menumpang dalam mobil salah satu saudara untuk pergi ke acara keluarga. Perjalanan yang harus kami tempuh lumayan jauh, 2 jam lamanya. Inginnya sih saya tidur saja dan begitu membuka mata sudah sampai di tempat, tapi begitu mata terpejam dan kepala bersandar sontak saya harus terbelalak kaget dan mengambil nafas dalam. Hal itu terjadi beberapa kali karena si pengemudi mengendarai mobil secara mengerikan. Yaa.. daripada ketakutan, saya mengalihkan perhatian dengan berpikir kemana-mana dan sampailah saya di pemikiran ini.

Mengawali mengemudi

Sebenarnya, orang hidup ini sama saja dengan orang mengemudikan kendaraan. Untuk mulai menjalankan kendaraan, harus dimulai dari persneling yang paling rendah, yang paling berat. Begitu pun dengan hidup, untuk memulainya kita selalu berjuang dari bawah. Tidak ada seorang pun yang bisa memulai sesuatu langsung di atas, semuanya harus dipelajari dan diawali dulu. Jika mulai menjalankan kendaraan pada persneling dua, kendaraan akan tersengal-sengal dan kemudian mesinnya akan mati. Jika tetap ingin menjalankannya pada persneling dua, kita harus menekan pedal gas agak dalam. Artinya dibutuhkan usaha lebih untuk memulainya.

Menaikkan persneling

Kecepatan bertambah secara bertahap dan harus diikuti dengan perpindahan persneling secara bertahap juga. Dalam hidup, jika ingin maju (analoginya, ingin menambah kecepatan), ingin kehidupan yang lebih baik, kita harus meningkatkan kemampuan. Jika kita tidak mau mengganti persneling, tidak mau meningkatkan kemampuan, maka seberapa kerasnya kita berusaha, hasilnya tidak akan menyamai mereka yang meningkatkan kemampuannya.

Mengurangi kecepatan, bahkan berhenti

Untuk menambah kecepatan, perpindahan persneling selalu bertahap. Namun untuk mengurangi kecepatan, perpindahan persneling bisa saja melompat dari empat ke dua atau tiga ke satu dengan bantuan rem. Pada saat-saat tertentu, kita dituntut untuk mampu mengendalikan diri yang tidak ada tahapannya, untuk keselamatan kita sendiri dan keselamatan orang lain. Contohnya dalam pekerjaan dan keluarga. Ya, kita benar dan tidak salah sedikit pun, namun pertimbangkan juga keselamatan diri kita dan apakah hal tersebut merugikan orang lain. Kadang kita dituntut untuk merelakan apa yang sudah kita usahakan dengan keras, dan memulai lagi semuanya dari awal demi kebaikan bersama.

Mengadu kecepatan dengan pengendara lain

Di jalan raya, ada banyak pengendara-pengendara lain dengan kendaraannya masing-masing. Kadang kala pengendara lain menghambat jalan kita, di kesempatan lain ada pengendara yang merongrong ingin mendahului sehingga membuat was-was. Jika kita terus melihat mobil-mobil lain baik yang di belakang maupun yang berlawanan arah, kita akan bingung dan bisa-bisa malah celaka. Tetaplah fokus ke depan, pada tujuan kita, pada peluang-peluang untuk bisa mendahului pengendara lain dan waspada terhadap hal-hal yang bisa membuat perjalanan kita gagal. Tengoklah kiri dan kanan hanya pada saat akan mengambil tindakan. Mendahului mobil lain, berbelok, berhenti, dan sebagainya.. Hal ini untuk memastikan bahwa tindakan kita tidak mencelakai orang lain dan diri sendiri, bukan untuk mengamati tingkah laku pengendara lain atau mungkin jenis mobil kendaraan lain.

Begitu pula dalam hidup, kita berlomba-lomba dengan orang lain untuk mencapai tujuan. Kadang ada yang tujuannya bergesekan dengan tujuan kita, ada yang membahayakan bahkan ada pula yang tujuannya adalah menggagalkan tujuan kita. Sama dengan mengendarai mobil, jika kita terus menerus memperhatikan tingkah orang lain, tidak fokus terhadap tujuan dan apa yang ada di depan, bisa dipastikan kita gagal mencapai tujuan. Memperhatikan apa yang dilakukan orang lain itu penting sebagai pembelajaran, sebagai pertimbangan apakah keputusan kita tidak merugikan orang lain. Namun perlu diingat untuk tetap melihat ke depan dan fokus pada tujuan kita. Pencapaian hidup berada di tangan kita, bukan di tangan orang lain. Maka kemudikanlah hidup dengan baik, sebagaimana mengemudikan kendaraan Anda dengan baik agar Anda dan penumpang nyaman di perjalanan dan berhasil sampai di tujuan.

sumber :  metrotvnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.